Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 November 2009

Album Review - Humbug (Arctic Monkeys)

Slower songs & heavier sound! Begitulah kesan yang timbul ketika kita mendengar album ke 3 kuartet asal Inggris ini. Konon anggota Arctic Monkeys terinfluence dengan musisi di era Classic Rock seperti Cream, Jimi Hendrix, dan Black Sabbath ketika membuat album ini. Meski sedikit beda gaya, ke 10 lagu di album ini tetap memiliki tone khas Arctic Monkeys yaitu lagu yang catchy (meski tidak se-catchy 2 album pertama mereka, catchy dalam arti yang sedikit berbeda), riff yang haunting dan lirik unik Alex Turner. Humbug bukanlah tipe album “sekali denger langsung enak” melainkan tipe album yang harus sering kita dengar untuk tahu “enaknya dimana”.

            Moment terkuat di album ini menurut saya adalah 3 lagu pertama pembuka album. Dengan style lagu pertama yang langsung berbeda dibandingkan lagu pembuka di 2 album awal Monkeys, Humbug dibuka dengan lagu slow heavy namun haunting, My Propeller. Dilanjutkan oleh single dengan video klip nyentrik (Arctic Monkeys bermusik di atas sekoci), Crying Lightning. Track ke 3, Dangerous Animals bisa dibilang lagu rock Monkeys dengan suasana yang lebih teler dibanding Fake Tales Of San Francisco.

            Lagu teler favorit lainnya adalah lagu Fire And The Thud. Lagu ini memiliki lirik keren ala Alex Turner (The day after you stole my heart, Everything I touched told me it would be better shared with you). Lagu memorable Humbug lainnya adalah Secret Door, Dance Little Liar & lagu personal favorite saya, Cornerstone. Cornerstone adalah lagu ballad yang melodius dibanding lagu-lagu lainnya yang gelap. Lirik lagu ini bercerita tentang rasa kehilangan mantan pacar yang luar biasa sehingga sang karakter dalam lagu ingin memanggil setiap gadis yang mirip dengan pacarnya dengan nama pacarnya dulu. “Please can I call you her name?” Lagu dengan melodi & lirik mantap ini dipastikan menjadi salah satu lagu fan favorite. Video klip simple lagu yang menjadi single ke 2 Humbug ini juga wajib disimak.

Perubahan gaya indie/alternative rock Arctic Monkeys tidak hanya dari segi lagu, penampilan band ini juga berubah total. Alex Turner (vokal, gitar), Jamie Cook (gitar), dan Nick O’Malley (bass) memanjangkan rambut mereka ala hippie 60an sehingga mereka terlihat lebih dewasa & keren. Image ini buat saya menjadikan mereka band terkeren Inggris sejak The Libertines! Sikap perubahan gaya & musik Monkeys akan membuat fans mereka seakan-akan terbelah 2 / terbagi menjadi 2 kubu antara yang pro & kontra dengan perubahan ini. Hal ini mengingatkan kita akan musisi besar lainnya yang selalu berevolusi & menolak status quo seperti The Beatles, Queen, Miles Davis, David Bowie, dll.

Humbug adalah album Arctic Monkeys terfavorit saya karena bagi saya Arctic Monkeys sedang berkembang ke arah musikal yang lebih baik lagi, jauh meninggalkan band seumuran mereka. Humbug menunjukkan kemampuan Alex Turner cs. membuat melodi bagus dalam gaya & sound yang berbeda. Sikap & musik mereka yang menolak untuk menjadi satu gaya dengan musisi lain di era 2000an lain semakin jelas terlihat di Humbug yang heavy. Meski menurut beberapa kritikus & fans album ini tidak sebaik 2 album sebelumnya, namun bagi saya suatu saat Humbug akan dipandang menjadi salah satu rilisan terpenting dalam katalog Arctic Monkeys.

Sedikit kritik untuk packaging album Humbug dalam format CD. Seperti kebanyakan CD keluaran baru, CD Humbug seperti bergaya mirip replica Vinyl yang annoying karena akan membuat CD gampang lecet & tidak tahan lama. Sangat disayangkan, meski cover Humbug terlihat keren dalam packaging ini. 8.5/10.

Sabtu, 17 Oktober 2009

Inglorious Basterds


Film Tarantino yang sangat menghibur!!! Tarantino semakin mengukuhkan dirinya sebagai sutradara unik yang mampu membuat film-film drama penuh violence menghibur. Seperti biasa film Tarantino penuh dengan karakter unik dan musik bagus (terutama lagu David Bowie dari film Cat People yang digunakan dengan sangat pas dan keren di film ini). Penampilan sempurna Christoph Waltz sebagai Col. Landa sang pemburu orang Yahudi sangat membantu menguatkan film ini. Brad Pitt yang sepertinya sudah cukup "hapal" dengan akting sebagai karakter nyentrik (misalnya di film Snatch), juga bermain baik dalam karakter Aldo Reine. Pemilihan warna dan setting film ini juga sangat artistik dan terkesan rapi. Sebagai penggemar film nyeleneh, gw berharap Tarantino bisa lebih produktif dan kreatif lagi untuk film-film selanjutnya. Inglourious Basterds adalah film apik nan menghibur dengan gaya film Western-nya Sergio Leone yang wajib ditonton! 9/10.

Jumat, 10 Juli 2009

God Is Our Victory Review


Review buat majalah musik Passion edisi ke 2

God Is Our Victory

Rating

CD: 7/10

DVD: 7.5/10

God Is Our Victory adalah album terbaru True Worshippers yang direkam secara live di Tennis Indoor Senayan pada bulan February kemarin. Musik dalam album yang berisi 12 track (11 lagu baru dan 1 lagu opening) ini cukup bagus. Aransemen baik dan catchy dan lirik yang sing-along andalan True Worshippers masih terdengar jelas di album ini. Saya rasa penggemar True Worshippers tidak akan kecewa dengan rilisan ini, meski buat saya ada beberapa lagu yang kurang bagus. Ada juga DVD yang menampilkan konser penuh, ditambah beberapa fitur seperti lirik, karaoke mode, dan slideshow foto. Hasil live recording CD dan DVD bisa dibilang memuaskan dan mampu menangkap suasana konser yang megah.

Menurut salah satu personil True Worshippers (Sidney Mohede di awal dvd) album ini memiliki tema tentang Kemenangan. Tema tentang kemenangan dalam album ini menurut berbagai sumber diambil dari 2 Tawarikh 20 yang bercerita mengenai perjuangan raja Yosafat melawan musuh-musuhnya. Menurut Sidney, album ini dibuat untuk memberikan dorongan dan pengharapan kepada para pendengar album ini.

Lagu favorit saya di album ini adalah Juru S’lamatku karya Andre Hermanto yang dinyanyikan oleh Ruth Sahanaya. Secara keseluruhan, God Is Our Victory adalah album yang cukup memuaskan dan True Worshippers kembali identik dengan standar tinggi dalam produksi produk musik rohani di Indonesia. Standar tinggi yang semoga bisa dicontoh oleh gereja-gereja lokal di Indonesia.


God Is Our Victory tersedia dalam format kaset, CD, VCD, dan DVD. Tersedia juga Songbook yang berisi lirik dan chord dari ke 11 lagu di album ini.

Worship Sessions Review

Review buat majalah Passion Edisi ke 2

Rating

Worship Sessions vol. 2: 7.25/10

Worship Sessions vol. 3: 6/10

Worship Sessions adalah seri album rohani Neal Morse yang musiknya tidak bergaya progressive rock. Sejauh ini sudah ada 4 seri album Worship Session dimulai dari Worship Sessions Vol. 1: Lead Me Lord yang dirilis pada tahun 2005, lalu Vol. 2, 3, dan 4 menyusul di tahun 2006, 2008, dan 2009. Saya akan mereview album Worship Sessions Vol. 2: Send The Fire dan Vol. 3: Secret Place.

Kedua album ini bergaya pop/gospel Albumnya solid dan penuh dengan lagu bagus yang diaransemen dengan baik. Seperti biasa Neal Morse memainkan hampir semua alat musik di album ini. Kedua album cukup mirip. Perbedaan vol. 2 dan 3 yang ketara adalah lagu di vol. 3 ada vokal wanitanya. Lagu favorit saya di vol. 2 adalah You Are Needed In This House sedangkan di vol. 3 adalah lagu pertama di album ini, Alleluia.

Namun, menurut saya kekuatan kedua album ini berada pada track-track awal saja. Mulai track ke 6 atau track ke 7 albumnya sudah kurang menarik dan sedikit monoton. Meski begitu, secara keseluruhan 2 album ini adalah album rohani yang solid dan layak disimak.

God Won't Give Up Review


Review gw buat majalah musik gereja Passion edisi ke 2

God Won’t Give Up

Rating: 7.75/10

Album yang memuaskan. Album Neal Morse rilisan 2005 ini adalah salah satu album Neal Morse yang tidak bergaya Progressive Rock. Musik di album ini bisa dibilang musik Kristen kontemporer dengan vokal yang dominan dan lirik berisikan pujian kepada Tuhan. Mayoritas lagu ini bisa dibilang bagus dengan melodi yang baik dan musik yang padu. Menurut Morse, lagu-lagu di album ini ia buat pada tahun 2002 atau tahun ketika Morse menjadi Kristen yang lahir baru. Beberapa lirik di album ini bisa dibilang menggambarkan perasaan Morse pada saat itu. Penuh sukacita, iman, pengharapan, pujian dan ucapan syukur, dan musik di album ini menggambarkan perasaan itu.

Morse adalah produser sekaligus penulis lagu di ke 10 lagu di album ini. Selain sebagai vokalis utama, seluruh piano, gitar, dan bass di album ini dimainkan oleh Morse, hampir semua instrumen. Bahkan Morse juga bermain drum di sebuah track (His Mercy Endureth). Lagu favorit saya di album ini adalah lagu riang berjudul Love Like You.

Menurut saya, album God Won’t Give Up bisa dibilang sebagai album personal Morse. Lagu-lagu di album ini bahkan ada sebelum proyek dobel-album ambisius Morse, Testimony (yang juga berdasarkan pengalaman pribadi). Album personal yang lirik atau tema albumnya dibuat berdasarkan pengalaman pribadi sang musisi biasanya memiliki kekuatan dan daya tarik yang berbeda dari album kebanyakan. Misalnya, album Blood on The Tracks karya Bob Dylan, Blue karya Joni Mitchell, Us karya Peter Gabriel atau Sea Change karya Beck yang dibuat ketika musisi-musisi tersebut sedang patah hati. Semua album tersebut bisa dibilang critically acclaimed.

Kekuatan utama album ini menurut saya adalah lagu-lagu karya Morse yang memiliki melodi dan lirik yang bagus, catchy dan mudah dinyanyikan. Album ini juga tidak sulit “dicerna”, kalau menurut istilah saya “sekali denger udah langsung enak”. Aransemen musiknya juga terdengar pas dan tidak berlebihan. Album rohani yang baik.

Tracklist:

1. I Sing My Love

2. His Mercy Endureth

3. King of Love

4. The Crossroads

5. Save My Life Tonight

6. Love Like You

7. Mountain

8. John’s Dream

9. See What God Can Do

10. God Won’t Give Up

Christian Progressive Rock Review


Rating:

Christian Progressive Rock Vol.1: 6.5/10

Christian Progressive Rock Vol.2: 6.5/10

Christian Progressive Rock Vol.3: 6/10

Proyek album Christian Progressive Rock (CPR) adalah proyek kompilasi yang mengumpulkan beberapa musisi Kristen (atau mengusung tema kristiani) ke dalam album yang berjudul Christian Progressive Rock. Sejauh ini sudah ada 3 album CPR yang ada dengan musisi yang cukup beragam, mulai dari yang cukup terkenal seperti Neal Morse, Glass Hammer, dan Proto-Kaw sampai ke yang “kurang terkenal” (setidaknya bagi saya) seperti Vertical Alignment, Pursuit, dll. Keyboardist terkenal Rick Wakeman bahkan berkontribusi di salah satu lagu (lagu pertama di CPR 1, Ajalon / What Kind Of Love). Tujuan utama proyek CPR ini adalah untuk memperkenalkan genre Progressive Rock yang jarang dibawakan musisi Kristen kepada komunitas musisi kristiani. Sebaliknya, CPR juga dapat memperkenalkan tema mengenai Kekristenan kepada komunitas Progressive Rock.

Proyek ini berawal dari daftar yang dibuat seorang penggemar musik Kristen dari New Jersey, Bill Hammell. Bill membuat list tentang musisi kesukaannya di internet. Salah satu daftar list yang Bill buat adalah CPROG yang membahas dan mendiskusikan musik progressive rock dari sudut pandang Kristiani dan juga yang dibuat oleh musisi Kristen. Daftar ini dia buat untuk memperkenalkan jenis musik yang jarang dibawakan di gereja, progressive rock ke dalam komunitas Kristen. Lama kelamaan banyak musisi prog/Kristen yang bergabung ke dalam komunitas internet ini dan akhirnya pada tahun 2003 dimulailah proyek kompilasi CPR untuk mempromosikan genre progressive rock ke dalam komunitas Kristen.

Musik Progressive Rock memang bukan genre yang popular di kalangan “musik Kristen”. Struktur lagu yang rumit membuat genre ini identik dengan kreativitas dan skill tinggi. Durasi lagu yang panjang, lirik yang terkadang berisi cerita dan musik yang sulit dicerna menurut saya membuat genre ini tidak popular di kancah musik dunia, apalagi di daereah “musik Kristen” yang cenderung konservatif dan sedikit tertutup dengan keberagaman genre. Menurut produser Randy George, baru kali ini ada album yang menyatukan musisi “Kristen” yang membawakan musik Progressive ke dalam 1 album. Keberanian para musisi ini memainkan genre Progressive Rock dalam komunitas musik Kristen menurut saya patut dicontoh. Semacam pemberontakan dalam arti yang positif ke dalam keseragaman musik gospel saat ini.

Bagaimana dengan musiknya sendiri di dalam album CPR ini? Secara garis besar, musiknya masih ada dalam taraf yang memuaskan, meski tidak bisa dibilang masterpiece, sangat kreatif dan sangat orisinal. Ada kelemahan dalam genre Progressive Rock menurut saya pribadi yaitu tipisnya perbedaan antara musik prog yang benar-benar jenius, menarik, menggugah, kreatif, dan berkesan dengan musik prog yang tidak terkonsep, tanpa arah, membosankan, egois, dan jelek. Lebih rumit dan tidak mengikuti arus belum tentu lebih bagus. Intinya, lagu-lagu di ketiga album yang total cd-nya mencapai 4 disc ini (CPR 4 sepertinya sedang dalam tahap pengerjaan) adalah gabungan dari lagu prog yang bagus, biasa saja dan jelek. Jelek setidaknya dari struktur lagu dan melodi yang membosankan dan monoton. Monoton? yup, menurut saya di genre prog-rock yang identik dengan kreatifitas tinggi-pun , lagu dapat terjebak menjadi soulless dan monoton dengan gaya dan improvisasi yang itu-itu saja.

Bagaimana dengan hal lirik lagu? Lirik di ketiga album ini sangat bergaya prog-rock. Seperti cerita petualangan, namun bernuansa Kristiani. Sayang nama Yesus sedikit sekali disebut. Secara keseluruhan, liriknya kurang special dan sepertinya hanya akan disimak sekali saja.

CPR adalah sebuah proyek musik yang cukup kreatif dan memiliki tujuan yang baik. Album ini cukup direspons positif oleh komunitas Progressive Rock di internet. Apakah tujuan memperkenalkan musik prog-rock ke dalam musik Kristen dan sebaliknya sudah cukup berhasil? Entahlah. Namun, proyek CPR merupakan awal yang cukup baik dan positif meski terasa belum maksimal.

Jumat, 22 Mei 2009

Testimony




















Review gw tentang album Testimony-nya Neal Morse yang dimuat di majalah musik gereja, Passion


Album : Testimony

Musisi : Neal Morse

Rating : 8 .25/ 10

Testimony adalah album solo ke 3 Neal Morse, salah satu musisi progressive rock terkenal di era 90an bersama band-nya Spock’s Beard dan Transatlantic. Album konsep (album yang memiliki tema atau cerita tertentu) berdurasi 2 jam lebih ini memiliki tema tentang perjalanan spiritual Morse dari sebelum perjumpaannya dengan Yesus sampai Morse menerima Tuhan Yesus dalam hidupnya. Bisa dibilang ini adalah album paling personal yang pernah Morse buat. Musik di album ini bisa dibilang sangat berbeda dengan musik Kristen kebanyakan. Meski lirik di album ini merupakan lirik yang kental bernuansa Kristiani yang penuh dengan ucapan syukur Morse, musiknya sangatlah rumit dan penuh dengan pergantian beat ala Progressive Rock. Aransemen rumit ditambah orchestra dan lirik personal mempertegas album ini sebagai salah satu album paling ambisius Morse. Neal Morse memainkan sebagian besar instrumen di album ini, dibantu oleh drummer Dream Theater, Mike Portnoy yang membuat musik dalam album ini semakin seru (dan rumit, dan asik) untuk disimak. Kerry Livgren yang juga seorang Born Again Christian juga ikut membantu di salah satu lagu di album ini.

Double album ini dibagi menjadi 5 bagian / part. Part 1-2 (disc 1) umumnya menceritakan tentang konflik spiritual, kesepian, dan kekosongan yang dialami Neal Morse sebelum dia berjumpa dengan Tuhan sampai pada keputusannya menjadi pengikut Kristus. Part 3-5 (disc 2) menceritakan transformasi Neal Morse dari hidupnya yang lama ke hidupnya yang baru. Pengaruh band Genesis dan Yes sangat terasa dalam aransemen Morse, meski begitu Neal Morse tetap mampu menghasilkan musik yang orisinal dengan vokal dan melodinya yang khas. Produksi album ini juga bisa dibilang sangat baik dan menambah point plus bagi kualitas album. Lagu favorit saya di album ini (meski setiap lagu satu dengan yang lainnya saling berhubungan) adalah lagu Moving in my Heart (lagu ke 4 disc 2).

Kelemahan album ini menurut saya adalah soal durasi yang terlalu panjang dan beberapa bagian / lagu terasa membosankan. Progressive Rock juga bukanlah genre yang umum dalam musik rohani sehingga bisa dibilang album ini bukan untuk semua orang. Bagaimanapun juga, album ini layak untuk menjadi alternatif referensi musik para pemusik Kristen dimanapun karena keragaman aransemen dan musiknya yang “heavy” yang jauh berbeda dari kebanyakan musik Kristen saat ini. Biasanya, album konsep juga merupakan karya seni essential dan paling ambisius seorang musisi yang sangat layak disimak. Tommy (The Who), The Wall (Pink Floyd), The Lamb Lies Down On Broadway (Genesis) dan Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band (The Beatles) adalah beberapa contoh album konsep yang sangat menarik dan ambisius. Testimony adalah salah satu album Progressive Rock terbaik era 2000an dan jelas merupakan salah satu album “Kristen” terbaik yang pernah dibuat.

Ariel Aditya

A Night At The Opera



















Review gw tentang album classic Queen, A Night At The Opera untuk majalah musik gereja, Passion

Album : A Night At The Opera

Musisi : Queen

Rating : 10/10

Album ke 4 Queen sekaligus album terbaik mereka bagi sebagian besar orang. Album ini sudah sangat terkenal dan melegenda dan album ini merupakan album yang mengangkat Queen dari band bagus menjadi no 1 band di Inggris. Banyak lagu terkenal Queen yang ada di album ini seperti Bohemian Rhapsody, Love Of My Life dan You’re My Best Friend yang merupakan lagu Queen terfavorit saya.

Mengapa album yang dirilis pada tahun 1975 ini sering disebut sebagai puncak kejeniusan Freddie Mercury (vocal, piano), Brian May (Gitar), John Deacon (Bass) dan Roger Taylor (drum)? Sederhana saja karena segala hal yang diperlukan suatu album agar disebut sebagai album bagus dimiliki album ini. Kumpulan lagu bagus dari bermacam-macam genre bersatu dengan padu di album ini. Lirik yang indah dan sound yang unik semakin memperkuat album ini.

Album ini dibuka dengan Death On Two Legs karya Mercury yang berirama rock dengan permainan gitar brilian dari jenius gitar, Brian May. Salah satu lagu pembuka album terbaik sepanjang masa! Lagu setelah Death On Two Legs adalah lagu ballad singkat bernuansa waltz berjudul Lazing On A Sunday Afternoon. Dalam 2 lagu awal saja, A Night At The Opera sudah menunjukan keragaman musik Queen yang sangat berkualitas. Lagu ke 3 adalah lagu karya Roger Taylor (dimana Taylor juga bernyanyi di lagu ini) I’m In Love With My Car. Lagu ini menunjukan keunikan Queen karena 3 dari 4 anggota Queen dapat bernyanyi dengan baik. Bisa dibilang Queen dengan segala harmonisasinya adalah penyempurnaan apa yang telah The Beatles lakukan beberapa tahun sebelumnya (Lennon dan McCartney adalah 2 penyanyi yang luar biasa, bahkan George dan Ringo pun dapat bernyanyi).

Lagu ke 4 adalah lagu favorit saya, You’re My Best Friend. Ballad menyenangkan karya John Deacon ini adalah salah satu lagu yang paling sering saya dengarkan baik ketika senang maupun ketika sedang sedih. Dentingan electric piano haunting dari John Deacon ditambah vokal bersemangat Freddie dan lirik mantap membuat lagu ini merupakan salah satu lagu terbaik Queen. You’re My Best Friend menunjukan bahwa ke 4 personil Queen dapat menciptakan lagu dengan sama baiknya. Setelah lagu You’re My Best Friend adalah lagu bernuansa pop, 39’ karya Brian May. Terdapat harmonisasi vokal yang indah dari Mercury, Taylor dan May di tengah lagu yang disusul dengan lengkingan singkat gitar Brian May yang memiliki sound unik.

Sweet Lady yang merupakan lagu glam rock karya Brian May adalah salah satu lagu yang tidak terlalu spesial dan terasa inferior jika dibandingkan dengan lagu lainnya. Seaside Rendezvous merupakan lagu waltz singkat yang menyenangkan yang mengingatkan kita akan lagu waltz Freddie lainnya, Lazing On A Sunday Afternoon. Lagu ke 8, The Prophet’s Song adalah lagu paling ambisius di album ini setelah Bohemian Rhapsody. Penuh dengan harmonisasi vokal yang rumit dan struktur lagu yang aneh membuat lagu ini merupakan salah satu lagu paling beda dalam katalog lagu Queen.

Setelah The Prophet’s Song yang unik, lagu selanjutnya adalah Love Of My Life yang merupakan salah satu lagu patah hati terbaik sepanjang masa. Vokal sempurna dan permainan piano indah Freddie didukung dengan melodi bass indah dari John Deacon sebagai latar dan permainan harpa Brian May menjadikan Love Of My Lofe sebagai lagu klasik dalam katalog Queen. Belum lagi harmonisasi vokal dan solo gitar yang luar biasa di tengah lagu. Good Company yang riang menampilkan vokal dan permainan ukulele Brian May adalah lagu yang cukup menghibur dan semakin memperkaya keberagaman gaya dalam album ini.

Bohemian Rhapsody dapat dibilang sebagai masterpiece Queen. Lagu yang sangat rumit dan memiliki struktur menarik (yang terpengaruh musik opera) ini merupakan lagu paling ambisius Queen dan salah satu lagu terbaik di era 70an. Menurut produser album ini (Roy Thomas Baker) bagian opera di tengah lagu diselesaikan selama 7 hari dan setidaknya 10-12 jam bernyanyi tanpa henti. Sebuah lagu dan kecanggihan produksi yang sangat maju untuk eranya, bahkan di era digital seperti sekarang, belum ada lagu yang mampu menandingi kecanggihan Bohemian Rhapsody. Brilliant! Jangan lupa juga solo gitar Brian May yang sangat melodius di tengah lagu. Album ini ditutup dengan God Save The Queen, lagu kebangsaan Inggris yang dimainkan secara instrumental oleh Queen (lagi-lagi sound gitar super unik dari Brian May). Sebuah penutup yang sempurna.

Album ini seperti semua album Queen sebelum album The Game tidak memakai Synthesizer untuk menghasilkan suara-suara aneh. Queen lebih memilih menggunakan instrumen atau alat-alat tradisional agar sound yang terdengar lebih alami. Tidak heran album yang menghabiskan 45 ribu poundsterling (jumlah yang sangat banyak untuk zamannya) dan 4 bulan untuk direkam ini sangatlah dipuji karena produksinya yang canggih.

Album ini merupakan album wajib bagi penggemar musik rock, bisa dibilang album standar era 70an (dekade terbaik dalam hal musik menurut saya). Queen memang merupakan band yang pantas dijadikan panutan dalam bermusik bagi siapapun. Saya menilai Queen adalah band legend yang selalu bermain dengan hati. Musiknya sangatlah padu dan tidak ada anggotanya yang berlomba-lomba untuk menjadi yang menonjol. Tidak heran mengapa Queen selalu disebutkan musisi era 80an sampai sekarang sebagai sumber inspirasi. Selalu ada yang dapat dipelajari entah dari segi teknik ataupun sound. A Night At The Opera adalah album terbaik Queen dan merupakan pilihan awal yang baik jika kita ingin mulai mendengarkan Queen.

Ariel Aditya