Tampilkan postingan dengan label AC Milan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AC Milan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Desember 2009

List! Best of 2009


List terbaik-terbaik di tahun 2009 versi Ariel Aditya. Just for fun meski list-nya cukup serius ^^.

Best Band: Arctic Monkeys

Best Album: Humbug – Arctic Monkeys

Best Movie: Up & Inglourious Basterds (seri)

Best Movie Character: Russell from Up

Best Song: Cornerstone – Arctic Monkeys

Best Football Team: AC Milan

Best AC Milan player: Alexandre Pato

Best AC Milan moment: Milan 4 – Cagliari 3 (22/11/2009)

Best Football Player Transfer moment: Ricardo Kaka’ from Milan to Madrid (masih shocking & mengecewakan)

Best Comeback: Alessandro Nesta

Best New Coach: Leonardo

Best New Player: Thiago Silva

Best Football Coach: Pep Guardiola

Best Goalkeeper: Victor Valdes

Best Defender: Charles Puyol

Best Midfielder: Xavi

Best Striker: Lionel Messi

Best Footballer: Lionel Messi

Best Benchwarmer: Klaas Jan Huntelaar

Best Jersey: AC Milan Home 2009/2010

Best Actor: Christoph Waltz

Best Actress: Emma Watson

Best Director: Quentin Tarantino

Best Soundtrack: Up

Best Musician: Bob Dylan

Best Reissue: The Beatles Remaster

Best Music DVD: Nirvana Live At Reading

Best Film DVD/Blu-ray: Woodstock

Best Reunion: Blur

Best Album Cover: Humbug (Arctic Monkeys)

Best Musical Revelation: Television’s first album (Marquee Moon)

Best Advertising Agency: Ogilvy & Mather

Best Subject: Intermediate Accounting

Best Textbook: Intermediate Accounting

Best Book: Paul McCartney: A Life

Best McDonald’s: Istana Plaza, Bandung

Best Restaurant: McDonald’s

Best Food: Triple Cheeseburger (McD)

Best Site: Wikipedia

Best Mall: Plaza Indonesia

Best Music Store: Musik+

Best Magazine: Rollingstone Indonesia

Best Newspaper: Koran Kontan

Best Game: PES 2010

Best New Minister: Marty Natalegawa

Best Brand: Apple

Best Comedy: Kelas cost accounting

Best Sale: Gramedia 30%

Best Retirement: Paolo Maldini

Best Hairstyle: Alex Turner

Event of The Year: Pemilu Indonesia 2009

Moment of The Year: Berlusconi dilempar patung

Gulity Pleasure: Kristen Stewart

R.I.P.: Michael Jackson

Hype: Frozen Yogurt

Annoying: Sri Mulyani & Boediono attackers

Overrated: Kasus Bank Century

Underrated: Sri Mulyani & Boediono

Cool: Alex Turner

Uncool: Miley Cyrus

Cult: Pintu Terlarang

Man of The Year: Boediono

Woman of The Year: Sri Mulyani Indrawati

Senin, 01 Juni 2009

Change We Can Believe In!


Selamat jalan Carlo Ancelotti, pelatih Milan dalam hampir 8 tahun terakhir. Selama gw suka sepakbola khususnya suka AC Milan, gw blom pernah melihat AC Milan tanpa Ancelotti. Ancelotti adalah pelatih yang menurut gw sangat brilian meski tidak semua orang suka kepadanya. Well, seperti yang semua Milanisti ingat, Ancelotti adalah otak utama transformasi posisi Pirlo yang brilian, salah satu pencetus formasi 4-3-2-1 dengan 2 playmaker pertama yang langsung diikuti banyak team pada saat itu (kira-kira musim 2006/2007), dan yang paling penting arsitek permainan cantik AC Milan. Tidak bisa dipungkiri selama AC Milan dibawah Ancelotti, Milan bermain sangat cantik meski tidak memakai pemain sayap (Milan lebih mengandalakan bek sayap untuk serangan dari kedua sisi lapangan), setidaknya sebelum para pemain Milan menua seperti sekarang. Bola-bola pendek dan adanya seorang playmaker brilian (terutama Kaka dan Rui Costa di awal era Ancelotti) ditemani seorang deep-playmaker (terutama Pirlo) membuat permainan Milan menjadi sangat cantik. Ketika Milan menua, Ancelotti merubah taktik favoritnya, 4-3-1-2 menjadi 4-3-2-1 yang membuat lini tengah Milan tetap kuat dan solid yang membuahkan trofi Liga Champion. Ancelotti adalah pelatih yang hampir sempurna di mata gw, seorang sosok yang dihormati anak buahnya dan para Milanisti sejati.

Sayang ada beberapa kelemahan Ancelotti menurut gw. Tanpa bermaksud sok tahu dan sok jago, menurut gw kelemahan pertama adalah Ancelotti terlalu sering memakai Seedorf dalam 2 musim terakhir ini. Seedorf adalah pemain yang bagus tapi keputusan memainkan Seedorf yang sering merusak irama permainan karena permainan lambatnya, adalah keputusan yang kelewat konservatif buat gw. Ancelotti seharusnya lebih berani dengan memainkan Ronaldinho misalnya. Kelemahan kedua adalah Ancelotti seperti tidak mampu menyumbangkan trofi Seri A yang sebetulnya tidak kalah bergengsi dari Liga Champion di mata gw. Hanya 1 gelar Scudetto yang pernah disumbangkannya yaitu Scudetto di musim 2003/2004. Kelemahan Ancelotti lainnya adalah seringnya mengabaikan ajang "kurang penting" seperti Copa Italia dan Piala UEFA demi kebugaran para pemain di ajang yang lebih penting. Sayang sekali karena bagi gw, gelar tetaplah gelar, apapun kejuaraannya.

Ancelotti sebetulnya cukup sial dalam 2 musim terkahir ini. Ancelotti kurang beruntung dalam hal transfer pemain semenjak kepergian Shevchenko. Galliani hanya membeli Ricardo Oliveira ketika itu yang jelas tidak cukup bagus. Untungnya Ancelotti masih bisa menyiasati dengan mengubah formasi Milan sehingga Milan tetap menakutkan. Ancelotti juga kekurangan pasokan bek muda sekaligus terlalu banyak supply playmaker, belum lagi problem cedera yang menggila di AC Milan, terutama musim 2008/2009 ini dimana cedera hampir menimpa semua pemain. Untungnya, Ancelotti mampu menunjukkan kapasitasnya sebagai pelatih bagus dengan membawa Milan berprestasi cukup baik ditengah berbagai masalah. Namun, posisi 3 tentu belum cukup karena Milan selalu ingin menjadi team yang terbaik.

Banyak kalangan yang menilai Ancelotti tidak suka memainkan pemain muda, sebetulnya anggapan ini salah besar. Ancelotti sebetulnya suka memainkan pemain muda seperti Kaka (langsung menggeser Rui Costa di musim pertamanya berkat kepercayaan yang diberikan Ancelotti), Pato atau Gourcuff (ketika Gourcuff baru datang misalnya) karena pemain muda ini sudah mencapai kualitas dan mental "standar" AC Milan. Ancelotti jelas tidak bisa mengambil resiko dengan memainkan pemain asal muda ga jelas. Pemain muda yang berbakat saja tidak cukup, mereka harus memiliki mental yang baik, inilah yang menurut gw menyebabkan pemain seperti Gourcuff akhirnya sulit bersaing di Milan.

Apa momen terbaik Ancelotti buat gw? Tentu saja 3 final Liga Champion yang luar biasa dan Scudetto musim 2003/2004. Musim terbaik Ancelotti bagi gw adalah musim pertama gw menonton AC Milan, yaitu musim 2002/2003 dengan atraksi kegilaan Filippo Inzaghi yang didukung Rui Costa dan Rivaldo yang sering dikritik pada musim itu. Sedangkan musim terburuk Ancelotti bagi gw adalah musim 2008/2009 ini karena gagal di Piala UEFA dan juga musim 2005/2006 yang betul-betul menyedihkan karena gagal memperoleh Scudetto dan Liga Champion di saat-saat menjelang akhir musim meski Milan cukup difavoritkan.

Terima kasih Carletto! Kenangan yang luar biasa menonton Milan era Ancelotti yang oleh koran Bola sampai dijuluki Dream Team Part II. Semoga pengganti Ancelotti yang kemungkinan besar adalah Leonardo mampu memberikan prestasi yang lebih baik bagi Milan di masa mendatang, tetap mempertahankan permainan menyerang dan indah, dan juga mampu menumbangkan arogansi Inter Milan yang semakin hari semakin annoying. Forza Milan!

Minggu, 24 Mei 2009

AC Milan 2 - AS Roma 3

Mengecewakan! Intinya ini adalah pertandingan yang sangat kacau bagi AC Milan. Segala sesuatu tidak berjalan dengan baik sehingga farewell Paolo di San Siro menjadi sangat menyedihkan.

Babak pertama = intinya membosankan dan Milan tidak bermain baik. Sebetulnya Ancelotti berniat menyerang dengan memakai team offensif reguler Milan. Sayang para pemain tampil jauh dibawah performa terbaik mereka. Ronaldinho menurut gw seharusnya sudah layak kembali di starting XI.

Babak kedua = pertandingan lebih hidup setelah Milan tertinggal 1-0 dan Ancelotti mengganti Beckham dengan Seedorf. Seedorf bermain baik, sayang menurut saya seharusnya Pirlo-lah yang diganti. Bek Milan termasuk Maldini sering tidak pada posisi yang benar dan tidak cukup menekan para pemain Roma sehingga Roma dengan senang hati menciptakan beberapa peluang yang membahayakan. Pertandingan seru terutama pada saat Milan berhasil menyamakan kedudukan 2 kali. Sayang, akhirnya 2 freekick Roma dan wasit yang tidak bisa dipercaya luar biasa buruk mengalahkan Milano. Akhir yang kurang mantap bagi Maldini.

Ariel's Rating :
Dida (6) Flamini (5) Maldini (5.5) Favalli (5) Jankulovski (5) Beckham (6) Pirlo (5.5) Ambrosini (6.5) Kaka' (7.5) Inzaghi (5.5) Pato (5)

subs : Seedorf (7) Ronaldinho (7) Zambrotta (7)

Jumat, 22 Mei 2009

Terima kasih Paolo! 7 tahun yang luar biasa!


Paolo Maldini seperti yang kita semua para Milanisti tahu, akan memainkan partai resmi
Seri A terakhirnya di San Siro pada weekend ini. Saya sangat sedih akan rencana pensiun Maldini di akhir musim. Maldini adalah salah satu alasan mengapa gw suka AC Milan dari pertama kali demen bola sampai sekarang. Bersama Inzaghi, Pirlo, Shevchenko, Ambrosini, Dida, Gattuso, Nesta, dan Seedorf, Maldini-lah pemain yang selalu gw ikuti dan idolakan sejak pertama kali suka Milan di musim 2002/2003. Kemampuan bertahannya tidak bisa dipungkiri merupakan yang terbaik di dunia. Belum lagi kharisma dan kepemimpinannya yang luar biasa! Jarang sekali ada pemain yang dihormati oleh klub saingannya seperti Maldini. Respek pada Paolo memang sangat luar biasa, bisa kita lihat betapa banyak pemain yang melontarkan pujiannya kepada Paolo dalam rangka pertandingan Seri A terakhirnya di San Siro ini. Tidak heran, AC Milan mempensiunkan no punggung 3 sebagai tribute bagi Paolo, pemain yang hampir mustahil ada tandingannya dalam 10, 20 bahkan 50 tahun ke depan (meski no 3 dapat dipakai anaknya suatu saat nanti).

Kenangan gw akan sosok Paolo Maldini yang sangat gw idolakan ada banyak, tapi ada beberapa yang sangat berkesan. Yang pertama adalah ketika Maldini mengangkat trofi Liga Champion musim 2006/2007 yang luar biasa. Musim itu Milan bermain buruk di Seri A tapi di Champion Milan sangat brilian dan menghancurkan team seperti Muenchen, MU, dan terakhir Liverpool di final yang merupakan pembalasan kegagalan final 2005. Maldini yang sudah berumur 39 tahun itu tampak gagah mengangkat trofi Champion ke 5-nya. Yang kedua adalah gol Maldini di final Liga Champion melawan Liverpool pada musim 2004/2005. Gol tercepat di final Liga Champion ini memang langsung membakar semangat para Milanisti yang sudah berpikir piala ada pada genggaman ketika unggul 3-0 di babak pertama. Salah satu gol Maldini yang berkesan lainnya adalah gol ketika melawan Lazio di musim 2002/2003. Ketika itu Maldini mengenakan jersey Milan berwarna hitam dan menanduk umpan crossing Rivaldo. Ekspresi kegembiraan Maldini yang berlari sambil membentangkan tangannya dan berteriak langsung dimuat di berbagai media.

Maldini juga memiliki beberapa gaya khusus yang selalu membuat gw senang ketika menontonnya berlaga. Gaya dribel-nya yang unik dan khas adalah salah satu gaya-nya yang iconic. Dirbel Maldini memang sangat keren! Sepertinya defender baru sekarang hanya sedikit yang bertipe bek elegan seperti Maldini yang bertahan tidak hanya menggunakan fisiknya saja dan juga dapat mengatur serangan dari lini belakang. Gaya Maldini lain adalah tackle 1 kaki yang sangat cepat dan tepat sampai lawannya kebingungan dan kaget. Sangat keren meski bukan sesuatu yang khas. Youtube banyak memuat video aksi-aksi Maldini yang tentunya sangat menyenangkan untuk ditonton.

Gw yakin tidak hanya Milanisti yang akan kehilangan Maldini melainkan juga seluruh penggila sepakbola sejati dan penggila seni bertahan. Maldini akan diingat sebagai seorang gentleman sejati yang sangat rendah hati, menghargai orang lain, disiplin, berkarakter, berkharisma, berskill luar biasa, dan loyal. Sebuah kombinasi karakter dan skill yang jarang bahkan hampir mustahil ditemui saat ini. Maldini kemungkinan besar akan memainkan pertandingan Seri A terakhirnya melawan Fiorentina di kandang Fiorentina dan akan memainkan pertandingan perpisahannya bersama timnas Italia. Gw berharap AC Milan akan mengadakan 1 lagi pertandingan tribute untuk Paolo di San Siro yang bisa berisi Dream Team Milan era awal 90an melawan Team Milan era Ancelotti. Seluruh rekan dan mantan rekan Maldini di Milan dan Italia dapat berpartisipasi dalam duel indah untuk melepas sang legenda! Terima kasih Paolo atas 7 tahun yang sangat berarti bagi gw, 7 tahun yang luar biasa! Gw akan sangat kehilangan no 3 di lini belakang Milan. Forza Maldini! Forza Milan!